Menyantuni Anak Yatim



Bismillahhirrohmannirrohim


Para saudaraku yang senantiasa di cintai Allah SWT , kali ini saya akan berbagi tentang pembahsan mengenai Indahnya menyantuni anak yatim .

أَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيماً فَآوَى* وَوَجَدَكَ ضَالّاً فَهَدَى* وَوَجَدَكَ عَائِلاً فَأَغْنَى

“Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu dia melindungimu?Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu dia memberikan petunjuk. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu dia memberikan kecukupan.” (Adh-Dhuha: 6-8)

Sebelumnya saya akan membahas penjelasan mengenai menyantuni . Apa itu manyantuni .?
Mneyantuni adalah Menyantuni berasal dari kata dasar santun. Menyantuni adalah sebuah homonim karena arti-artinya memiliki ejaan dan pelafalan yang sama tetapi maknanya berbeda. Menyantuni adalah memberi hak orang lain atau mendahulukan hak-hak orang lain dari pada diri sendiri .

Dan arti kata dari yatimadalah Secara bahasa, yatim (اليتيم) berarti sendiri atau kehilangan. Dalam istilah syar’i,  yatim (اليتيم)  adalah anak yang ditinggalkan mati ayahnya sebelum ia mencapai umur balig. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menyebutkan tentang batas usia yatim dalam sabdanya yang diriwayatkan oleh Abu Daud: “لَا يُتْمَ بَعْدَ احْتِلَامٍ” yang artinya “tidak disebut yatim, anak yang telah bermimpi (baligh).” Sedangkan anak yang ditinggal mati oleh ibunya ketika ia masih kecil bukanlah termasuk dalam pengertian anak yatim. Sebab arti kata yatim (اليتيم) itu sendiri ialah kehilangan induk yang menanggung nafkah.

Imam As-Sa’di menjelaskan; “yatim adalah orang yang telah tiada ayahnya dan penanggung hidupnya, ia sangat membutuhkan pengayoman dan perbuatan baik dari orang lain”. (Taisirul Karimir Rahman: 1111) 

Tahukan sahabat Di dalam Al-Qur’an, Allah menyebutkan urusan anak yatim sebanyak 22 kali. islam memotivasi setiap mukmin untuk memberikan kontribusi maksimal kepada umat dan orang lain. Riwayat yang mauquf dan lemah menyatakan; “Barang siapa yang tidak memperhatikan urusan kaum muslimin, maka ia bukanlah dari golongan mereka” (Abu Nu’aim dll), sangat masyhur menjadi stigma dan aib bagi orang yang cuek dan acuh tak acuh terhadap permasalahan dan musibah yang menimpa umat. Sebaliknya Islam sangat memuji orang yang dermawan, peduli, responsip terhadap problematika umat dan orang lain. Oleh karena itu Rasulullah Saw. bersabda; “sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi orang lain”. (al-hadits, lemah riwayat Thabrani)

Menyantuni anak yatim di dunia akan menempati kedudukanyang tinggi di surga dekat dengan kedudukan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam
 .serta ada 3 hal penting yang harus diperhatikan yaitu ihsan (berbuat baik) kepada anak yatim, hak-hak anak yatim, dan harta anak yatim.



Meskipun anak yatim kehilangan kasih sayang ayah yang membesarkannya, tetapi tidak kehilangan rahmat Allah. Syari’at-Nya yang mulia memberikan perhatian besar terhadap kasih sayang dan sikap baik kepada anak yatim.
وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْيَتَامَى قُلْ إِصْلاَحٌ لَّهُمْ خَيْرٌ وَإِنْ تُخَالِطُوهُمْ فَإِخْوَانُكُمْ
Dan mereka bertanya kepadamu tentang anak yatim, katakalah: “Mengurus urusan mereka secara patut adalah baik, dan jika kamu bergaul dengan mereka, Maka mereka adalah saudaramu” (Al-Baqarah: 220)


Anak yatim harus mendapatkan hak-haknya sebagaimana anak-anak lain yang mendapatkan hak-hak dari ayah mereka. Syari’at Islam mengharuskan agar anak yatim mendapatkan kasih sayang, kelembutan, dan pendidikan baik yang dapat membentuknya menjadi manusia shaleh dalam kehidupannya. Berkenaan dengan hal tersebut, Allah Subhanahu Wata’ala berfirman tentang kehidupan Rasul-Nya Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang menjalani kehidupan sebagai anak yatim pada masa kanak-kanaknya
أَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيماً فَآوَى* وَوَجَدَكَ ضَالّاً فَهَدَى* وَوَجَدَكَ عَائِلاً فَأَغْنَى
“Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu dia melindungimu? Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu dia memberikan petunjuk. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu dia memberikan kecukupan.” (Adh-Dhuha: 6-8)
Bahkan dalam surat Al-Ma’un Allah menggolongkan orang-orang yang berlaku sewenang-wenang kepada anak yatim termasuk pendusta agama.
فَأَمَّا الْيَتِيمَ فَلَا تَقْهَرْ
“Sebab itu, terhadap anak yatim janganlah kamu berlaku sewenang-wenang.” (Ad-Dhuha: 9)
أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ* فَذَلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ* وَلَا يَحُضُّ عَلَى طَعَامِ الْمِسْكِينِ
“Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.” (Al-Ma’un: 1-3)

Hal yang harus diperhatikan berkaitan dengan hak harta anak yatim adalah keadaan anak yatim itu ditinjau dari sisi ekonominya. Seringkali pandangan terhadap anak yatim hanya mengarah kepada kemiskinan dan kekurangan harta, sehingga anak yatim selalu dipandang sebagai anak yang sangat membutuhkan bantuan ekonomi. Padahal tidak semua anak yatim ditinggal mati ayahnya dalam keadaan miskin. Adakalanya seorang ayah meninggal dunia dengan meninggalkan harta waris dalam jumlah yang besar, sehingga anak yang ditinggalkan memiliki hak untuk mendapatkan harta tinggalan ayahnya. Oleh sebab itu firman Allah dalam Al-Qur’an tidak hanya berupa perintah untuk mengluarkan harta untuk kepentingan anak yatim, tetapi juga berisi perintah untuk mengamankan dan memelihara harta anak yatim.
Di antara perintah Allah untuk berinfaq untuk anak adalah firmanNya:
لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَالْمَلائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى الْمَالَ عَلَى حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ
“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya…” (Al-Baqarah: 177)


Demikian uraianmengenai penjelasan menyantuni anak yatim dan penjelasan mengenai 3 hal penting yang harus diperhatikan yaitu ihsan (berbuat baik) kepada anak yatim, hak-hak anak yatim, dan harta anak yatim. Semoga Allah senantiasa memberikan keberkahan yang berlimpah dan menempati kedudukan yang tinggi di surga dekat dengan kedudukan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk parasaudaraku yang senantiasa senang berbagi dan menyantuni anak yatim




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cara Mewujudkan Generasi Berdaya

Ketahuilah, Hal-hal yang dapat merusak hati kita

Tahukah engkau Macam - macam Hijrah dan Apa itu Bngunan Hijrah .?